بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Redaksi Buletin Istiqomah

Diantara ibadah yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad  pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini adalah shalat tarawih. Kita bisa melihat dan merasakan, bahwa setiap kali Ramadhan tiba, kita semua sebagai kaum muslimin bersemangat untuk mendatangi masjid-masjid untuk menunaikan ibadah yang mulia ini. Agar ibadah kita semakin sempurna, sangat penting bagi kita untuk mengetahui seluk-beluk shalat tarawih ini.

1.         Pengertian Shalat Tarawih

Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari “tarwihatun” yang berarti waktu sesaat untuk istirahat. (Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294)

Dinamakan demikian karena para jamaah beristirahat setelah melaksanakan shalat tiap-tiap 4 rakaat. (Lisanul ‘Arab, 2/462)

Shalat yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam bulan Ramadhan dinamakan tarawih. (Syarh Shahih Muslim, 6/39 dan Fathul Bari, 4/294).

Karena para jamaah yang pertama kali bekumpul untuk shalat tarawih beristirahat setelah dua kali salam (yaitu setelah melaksanakan 2 rakaat ditutup dengan salam kemudian mengerjakan 2 rakaat lagi lalu ditutup dengan salam). (Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294)

2.         Hukumnya

Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan mengatakan, bahwa hukum shalat tarawih adalah sunnah muakkadah. Mengerjakan shalat tarawih dengan berjama’ah adalah lebih utama. Sungguh, dahulu Nabi Muhammad  mengerjakannya dengan para shahabat di masjid selama beberapa malam. Kemudian beliau tidak melaksanakan shalat tarawih bersama para shahabat lagi di malam-malam setelahnya, karena Nabi  khawatir jika Allah Ta’ala akan mengubah hukum shalat tarawih ini menjadi wajib bagi kaum muslimin. Hal ini dikarenakan pada saat Rasulullah   masih hidup, masih dimungkinkan adanya perubahan dan penetapan syari’at baru sebab wahyu masih turun. Adapun setelah Nabi  wafat, maka semua syari’at agama ini telah tetap dan tidak akan berubah sampai akhir zaman.

Beliau takut jika kaum muslimin mendapatkan dosa karena tidak mampu mengerjakan shalat tarawih. Seandainya Allah Ta’ala mewajibkannya. Ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Nabi  terhadap umatnya.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah -radhiyallahu’anha-, bahwa beliau berkata, “Rasulullah  pada suatu malam keluar dan shalat di masjid. Orang-orang pun ikut shalat bersamanya. Dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpul-lah banyak orang. Ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya. Mereka meperbincangkan lagi. Hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasulullah  keluar dan shalat. Ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama’ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian Nabi  bersabda (yang artinya) : “Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir (jika shalat tersebut) diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya”. [HR. Bukhari 3/220 dan Muslim 761]

Sepeninggal Nabi , para shahabat senantiasa mengerjakan shalat tarawih ini, dan umat beliau sampai sekarang menerima sunnah ini dengan sepenuhnya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah , bahwa Nabi   bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَصَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat (tarawih)(di bulan) Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan (pahala) dari Allah Ta’ala , niscaya akan diampuni dosanya yang telah lewat.” (HR. Bukhari 37 [1/24], Muslim 1776).

Imam Nawawi berkata dalam menjelaskan hadits diatas, “Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah).” (Syarah Shahih Muslim, 6/282).

3.         Waktunya

Waktu shalat tarawih adalah antara shalat ‘Isya hingga terbit fajar sebagaimana sabda Rasulullah

اِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menambah shalat pada kalian dan dia adalah shalat witir. Maka lakukanlah shalat witir itu antara shalat ‘Isya hingga shalat fajar.” (HR. Ahmad, Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “(Hadits) ini sanadnya shahih”, sebagaimana dalam Ash-Shahihah, 1/221 no.108)

4.         Jumlah raka’atnya

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih. Ada yang berpendapat tidak boleh lebih dari 11 rakaat, dan ada yang membolehkan. Yang kuat , wallahu a’lam, adalah pendapat pertama, berdasarkan hadits Aisyah -radhiyallahu’anha- (yang artinya) : “Nabi  tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at” (HR. Bukhari 3/16 dan Muslim 736).

Tapi, hendaknya kita juga tidak gampang membid’ahkan/menyalahkan saudara kita yang mengambil pendapat bolehnya shalat tarawih lebih dari 11 rakaat. Karena perkara ini memang ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama sampai hari ini. Wallahu a’lam.

Hal yang perlu menjadi catatan bagi kita semua adalah, hendaknya kita juga memperhatikan hal-hal berikut:

Keutamaan melaksanakan tarawih berjama’ah.

Dalam arti kita hendaknya mengutamakan shalat berjamaah bersama imam yang pendapatnya berbeda, daripada shalat tarawih sendirian. Nabi Muhammad  bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) shalat satu malam penuh.”. Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud (1/380). Berkenaan dengan hadits di atas, Al-Imam Ibnu Qudamah mengatakan: “Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (tarawih).” (Al-Mughni, 2/606).

Tartil dalam membaca Al-Qur’an dan Tuma’ninah (tenang/tidak tergesa-gesa) pada setiap gerakan shalat.

Pada hari ini, kita banyak melihat kaum muslimin yang shalat tarawih dengan cepat, sehingga membaca Al-Fatihah maupun surat-surat Al-Qur’an lainnya tanpa tartil dan berpindah gerakan tanpa tuma’ninah.

5.         Tata Cara Shalat Tarawih

Shalat tarawih dikerjakan 11 rekaat, terdiri dari 8 rekaat shalat tarawih ditambah 3 rekaat shalat witir. Terdapat perbedaan pendapat: tiap 4 rekaat salam, atau tiap 2 rekaat salam. Pendapat yang kuat wallahu a’lam adalah setiap 2 rekaat kemudian salam. Berdasarkan ke-umum-an dari sabda Nabi  yang menyatakan bahwa shalat malam itu dilaksanakan 2 rekaat 2 rekaat. Shahabat Ibnu ‘Umar  berkata, bahwa Nabi Muhammad  bersabda,

صَلاَةُ الّليْلِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam itu dua (rekaat) dua (rekaat).”  (HR. Bukhari 990, Muslim 1745)

Kemudian, disunnahkan dalam 3 rekaat terakhir (witir) membaca surat Al-A’la, Al-Kafirun dan Al-Ikhlash. Di sunnahkan di rekaat terakhir membaca qunut witir sebelum ruku’ atau bisa juga dilakukan setelah ruku’, kemudian bertakbir dan sujud. (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab “Shahihnya” (2/155-156/1100). Dalam qunut witir tersebut hendaknya berdo’a sebagaimana do’a yang Nabi ajarkan kepada cucunya Hasan bin Ali   sebagai berikut :

اَللَّهُمَّ اهْد نِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَا فِنِيْ فِيْمَنْ عَا فَيْتَ, وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَا رِكْ لِيْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ, وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ, فَاءِنَّكَ تَقْضِيْ وَلَايُقْضَى عَلَيْكَ, وَاِنَّهُ لَايَذِ لُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَلَا يَعِزُّمَنْ عَا دَيْتَ, تَبَا رَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَا لَيْتَ, لَامَنْجَاءَ مِنْكَ إلاَّ إلَيْكَ

“Ya Allah berilah aku hidayah, termasuk pada orang yang Engkau beri hidayah. Dan berilah aku keselamatan orang yang Engkau anugrahi keselamatan. Dan perbaikilah urusanku, termasuk dalam orang yang Engkau perbaiki urusannya. Dan berkahilah aku pada apa yang Engkau anugerahkan kepadaku. Dan hindarkan aku dari kejahatan apa yang Engkau putuskan. Sungguh Engkaulah yang memutuskan dan bukan diputuskan. Dan sungguh tidak akan hina orang yang Engkau tolong. Serta tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Berkah Engkau dan Maha Tinggi, tiada tempat berlindung dari-Mu kecuali kepada diri-Mu”. (HR. Abu Dawud, Nasai dan yang lainnya dengan sanad yang shahih. Lihat “Sifat Shalat Nabi” hal: 95-96 cet. ke-7).

Kemudian jika telah salam dari shalat witir mengucapkan :

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ, سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ, سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُّدُّوْسِ

“Maha suci Raja yang Maha Suci, Maha suci Raja yang Maha Suci, Maha suci Raja yang Maha Suci,” dengan memanjangkan serta mengeraskan suaranya saat mengucapkan yang ketiga kalinya.” (Shahih Abu Dawud No.1284).

Merupakan sunnah bagi imam untuk tidak berdo’a qunut pada separuh pertama bulan Ramadhaan, (akan tetapi) melakukan qunut tersebut pada separuh terakhir. Diperbolehkan mengangkat tangan pada do’a qunut, atau membiarkan tangan tetap di samping (seperti posisi sebelumnya/tidak mengangkat tangan), atau mengangkat tangan di awal qunut dan menurunkan tangan di akhir qunut, semua cara ini diperbolehkan. Tidak ditemukan atsar untuk menyeka/menyapu wajah dengan tangan setelah qunut.

Demikianlah, ringkasan perihal shalat tarawih. Semoga yang sedikit ini dapat menambah wawasan agama kita dan menjadikan kita dapat beramal sesuai dengan sunnah Nabi  yang mulia.

Oleh : Tim Redaksi Buletin Istiqomah.

Maraji’ : Mulakhos Fiqhiyah karya Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah dan dari berbagai sumber lain.