بسم الله الرحمن الرحيم

Pemakaman Jenazah Dan Hal-Hal Yg Berkaitan Dengannya

  • Diwajibkan membawa dan mengiringi jenazah. Hal ini adalah di antara hak jenazah muslim yang harus dipenuhi oleh kaum muslimin yang lain. Banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ (وَفِي رِوَايَةٍ: يَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيْهِ) خَمْسٌ: رَدُّ السَّلِامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةَ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

“Hak seorang muslim terhadap muslim lain (dalam sebuah riwayat : “Perkara yang wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya…”) ada lima : Menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang yang bersin.”

Diriwayatkan oleh Al Bukhari (3/88) dan konteks hadits di atas adalah riwayat beliau, dan diriwayatkan pula oleh Muslim (7/3) dengan riwayat kedua.

  • Disunnahkan memanggul jenazah di atas pundak dari empat sisi dan mempercepat langkah (dengan tidak berlebihan) ketika membawanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Bersegeralah kalian menyelesaikan penyelenggaraan jenazah. Karena bila jenazah itu adalah jenazah orang shalih maka berarti kalian telah mempercepat kebaikan untuknya, dan jika dia bukan orang shalih maka berarti kalian telah menyingkirkan kejelekan dari pundak kalian”. (HR. Al-Bukhari no. 1315 dan Muslim no. 944).

Asy Syaikh Al Albani rahimahullah berkata :

وَيَجِبُ الْاِسْرَاعُ فِي السَّيْرِ بِهَا، سَيْرًا دُوْنَ الرَّمْلِ

“Wajib mempercepat jalan ketika membawa jenazah, dengan berjalan yang tingkatannya di bawah lari-lari kecil.” (Ahkamul Janaiz 1/71)

  • Orang-orang yang mengiringi jenazah boleh berjalan di depan jenazah, di belakang, di sebelah kanan maupun sebelah kirinya, asal masih dekat dengan jenazah. Adapun orang yang mengiringi dengan kendaraan, maka dia harus berada di bagian belakang. Riwayat tentang semua itu telah datang dalam hadits.

الراكب (يسير) خلف الجنازة، والماشي حيث شاء منها، (خلفها وأمامها، وعن يمينها، وعن يسارها، قريبا منها) ، والطفل يصلى عليه، (ويدعى لوالديه بالمغفرة والرحمة)

“Orang yang berkendaraan hendaknya berada di belakang jenazah. Orang yang berjalan kaki boleh berada di arah yang dia kehendaki, di belakang jenazah, di depan, di sebelah kanan, atau di sebelah kirinya, yang dekat dengan jenazah. Anak kecil yang meninggal hendaknya dishalati, dan kedua orangtuanya hendaknya didoakan dengan ampunan dan rahmat.”

 (Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/65), An Nasa’i (1/275-276), At Tirmidzi (2/144), Ibnu Majah (1/451,458), Ath Thahawi (1/278), Ibnu Hibban dalam Shahih beliau (769), Al Baihaqi (25 dan 84), Ath Thayalisi (701-702), dan Ahmad (4/247,248-249,249,252) dari hadits Al Mughirah bin Syu’bah. At Tirmidzi berkata : “Hadits hasan shahih.” Al Hakim berkata : “Shahih atas syarat Al Bukhari.” Adz Dzahabi menyetujuinya. Asy Syaikh Al Albani rahimahullah berkata : “Keadaan hadits di atas sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (At Tirmidzi dan Al Hakim).”) [Ahkamul Janaiz 1/73]

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر كانوا يمشون أمام الجنازة وخلفها

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar (radhiallahu ‘anhuma) dahulu pernah berjalan di depan jenazah maupun di belakangnya.”

(Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1483), Ath Thahawi (1/278) dari dua jalan, dari Yunus bin Yazid dan Ibnu Syihab darinya).

Asy Syaikh Al Albani rahimahullah berkata :

  • Ketika memasuki pemakaman, hendaknya memberi salam kepada penghuni kubur dari kalangan kaum muslimin dan mendoakan kebaikan bagi mereka. Di antara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya yang berziarah kubur :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dari kalangan kaum mu’minin dan muslimin. Mudah-mudahan Alloh merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Alloh akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Alloh keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim 975, An-Nasa`i 4/94, Ahmad 5/353, 359, 360.

اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنِ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ

“Keselamatan atas penghuni kubur dari kalangan kaum mu’minin dan muslimin. Mudah-mudahan Alloh merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Dan kami Insya Alloh akan menyusul kalian”.

  • Hendaknya tidak berjalan di atas pemakaman dengan mengenakan sandal. Hal ini berdasarkan hadits Basyir bin Khashoshiah :

بَيْنَمَا هُوَ يَمْشِيْ إِذْ حَانَتْ مِنْهُ نَظَرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بَيْنَ الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَرَمَى بِهِمَا

“Ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi  wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang berjalan di antara kuburan dengan mengenakan sandal. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai orang yang memakai sandal ! Celakalah engkau, lepaskanlah sandalmu !” Maka orang itu melihat (sumber suara-pent). Tatkala ia mengetahui (bahwa yang memerintah adalah-pent) Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, ia melepaskan kedua sandalnya dan melemparkannya. Diriwayatkan oleh Abu Daud 2/72, An-Nasa`i 1/288, Ibnu Majah 1/474, Al-Hakim 1/373 dan dia berkata : “Sanadnya shohih”, dan disepakati oleh Adz-Dzahaby dan dikuatkan (diakui) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bary 3/160).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di antara kuburan dengan sandal” (Fathul Bary 3/160). Berkata Syaikh Al-Albany : “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di pemakaman dengan memakai sandal.” (Lihat Ahkamul Janaiz 252).

  • Tidak boleh duduk, menginjak, atau bersandar pada kuburan.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Martsad radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan melakukan shalat padanya”. Dikeluarkan oleh Imam Muslim 2/228.

Dan juga berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُجَصَّصَ القُبُورُ، وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا، وَأَنْ تُوطَأَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan memplester kuburan, menulisinya, membangunnya, dan menginjaknya.”

Diriwayatkan secara marfu’ oleh At Tirmidzi (3/359) dan dishahihkan oleh beliau.

Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda :

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحُدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga (bara api itu) membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya itu adalah lebih baik daripada dia duduk di atas kuburan”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

“Ini adalah sanad yang shahih menurut syarat Asy Syaikhain (Al Bukhari da Muslim).” (Ahkamul Janaiz 1/74).

  • Diwajibkan memperdalam dan memperluas lubang kubur agar jenazah terjaga dari jangkauan binatang buas dan baunya tidak merebak keluar. Hal ini berdasarkan hadits berikut :

عن هشام بن عامر قال:

لما كان يوم أحد أصيب من أصيب من المسلمين وأصاب الناس جراحات فقلنا: يا رسول الله الحفر علينا لكل إنسان شديد فكيف تأمرنا فقال:

“احفروا وأوسعوا وأعمقوا وأحسنوا وادفنوا الاثنين والثلاثة في القبر وقدموا أكثرهم قرآنا.

قال: فكان أبي ثالث ثلاثة وكان أكثرهم قرآنا فقدم”.

Dari Hisyam bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :“Pada perang Uhud ada banyak kaum muslimin yang terbunuh dan terluka. Maka kami berkata : ‘Wahai Rasulullah, membuat lubang kubur untuk setiap orang adalah hal yang berat bagi kami. Lalu apa yang akan anda perintahkan untuk kami?’ Beliaupun berkata : “Galilah lubang, perluaslah, perdalamlah, dan perbaguslah. Kuburkanlah dua dan tiga orang dalam satu kuburan, dan dahulukan yang lebih banyak hafalan Al Qur’annya di antara mereka.” “

Hisyam bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu berkata : “Maka ayahku adalah orang ketiga dari tiga orang yang akan dikubur dalam satu lubang. Tetapi karena beliau memiliki hafalan Al Qur’an paling banyak di antara mereka, maka beliaulah yang terlebih dahulu diletakkan di dalam kubur.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/70), An Nasa’i (1/283-284), At Tirmidzi (3/36), Al Baihaqi (4/43), Ahmad (4/19 dan 20), dan Ibnu Majah secara ringkas. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dlm Ahkamul Janaiz hal. 182.

 

  • Ada dua jenis lubang kubur, yaitu Lahad dan Syaq. Lahad dan adalah lubang (membentuk huruf U memanjang) yang dibuat khusus di dasar kubur pada bagian arah kiblat untuk meletakkan jenazah di dalamnya. Sedangkan Syaq adalah lubang yang dibuat khusus di dasar kubur pada bagian tengahnya (membentuk huruf U memanjang).

Lubang kubur boleh dibuat dalam bentuk lahad maupun syaq karena berjalannya amalan kaum muslimin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap dua hal itu. Dalilnya adalah hadits berikut :

وعن عائشة -رضي الله عنها- قالت: لما مات رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، اختلفوا في اللحدِ والشق، حتى تكلموا في ذلك وارتفعت أصواتهم، فقال عمر: لا تصخَبوا عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- حياً ولا ميتاً، أو كلمة نحوها، فأرسلوا إلى الشقَّاق واللاحد جميعاً، فجاء اللاحد فلحد لرسول الله -صلى الله عليه وسلم-، ثم دفن -صلى الله عليه وسلم-.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata : “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, mereka (para shahabat-pent) berselisih apakah beliau akan dikubur dalam lahad atau syaq, sampai-sampai mereka ramai membicarakan hal itu dan suara-suara mereka meninggi. Maka ‘Umar – radhiallahu ‘anhu- berkata,”Janganlah kalian ribut di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik ketika beliau masih hidup ataupun ketika beliau sudah wafat.” Atau kalimat yang semisalnya. Maka mereka mengutus beberapa orang untuk memanggil orang yang biasa membuat lubang syaq dan orang yang biasa membuat lubang lahad. Lalu datanglah orang yang biasa membuat lubang lahad. Maka dibuatkanlah lahad untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau dimakamkan.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/497) dalam Kitabul Janaiz. Al Bushairi berkata dalam Az Zawaid (1/507) : “Ini adalah sanad yang shahih. Perawinya adalah orang-orang yang tsiqah.” Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah No. 1265.

Tetapi liang lahad lebih baik daripada syaq. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُ لِغَيْرِنَا

“Liang lahad itu adalah bagi kita (kaum muslimin), sedangkan syaq bagi selain kita (non muslim).” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam “Ahkamul Janaaiz” hal. 145).

Al Imam An Nawawi berkata dalam Al Majmu’ (5/287) :

“Para ulama sepakat bahwa mengubur dalam liang lahad dan syaq adalah boleh. Tetapi jika tanahnya keras dan tidak rapuh maka yang afdhal adalah lahad berdasarkan dalil-dalil yang telah lewat. Adapun jika tanahnya lunak dan rapuh maka syaq lebih afdhal.”

  • Disunnahkan memasukkan jenazah ke liang lahat dari arah kaki kuburan lalu diturunkan ke dalam liang kubur secara perlahan. Dasarnya adalah hadits Abu Ishaq As Sabi’i (seorang tabi’in masyhur), beliau berkata :

أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ القَبْرِ وَقَالَ: هَذَا مِنَ السُّنَّةِ.

“Al Harits berwasiat agar ‘Abdullah bin Yazid -radhiallahu ‘anhu- menyolatinya. Maka ‘Abdullah bin Yazid pun menyolatinya, kemudian memasukkan jenazahnya ke dalam kuburan dari arah kedua kaki kuburan. Beliau berkata : Ini termasuk tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/130), Abu Dawud (2/69) dari jalannya juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi (4/54) dan beliau berkata : “Ini adalah sanad yang shahih.”

Juga perkataan Muhammad bin Sirin rahimahullah :

كُنْتُ مَعَ أَنَسٍ فِي جِنَازَةٍ فَأَمَرَ بِالْمَيِّتِ فَسُلَّ، مِنْ قِبَلِ رِجْلَ الْقَبْرِ

“Dahulu saya pernah bersama Anas menghadiri (penguburan) jenazah. Lalu beliau memerintahkan agar jenazahnya diturunkan. Maka jenazah itupun diturunkan pelan pelan dari arah kaki kuburan.”

Dikeluarkan oleh Ahmad (4081) dan Ibnu Abi Syaibah (4/130), dan sanadnya Shahih. (Ahkamul Janaiz hal. 190-192).

Jika tidak memungkinkan, boleh menurunkannya dari arah kiblat.

  • Orang yang menurunkan jenazah ke lubang kubur hendaklah mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ ، وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

“Dengan menyebut nama Alloh dan di atas agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.”

atau

بِسْمِ اللَّهِ ، وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

“Dengan menyebut nama Alloh dan di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.”

Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma :

أَنَّ النَِّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا وَضَعَ المَيِّتَ فِي الْقَبْرِ، قَالَ : (وَ فِي لَفْظٍ : أَنَّ النَِّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ فَقُولُوا) : بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ ، (و في رواية : مِلَّةِ) رَسُولِ اللَّهِ 

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dahulu jika meletakkan jenazah di dalam kubur, beliau berkata (dan dalam sebuah lafadz : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :  Jika kalian meletakkan jenazah-jenazah kalian di dalam kubur, maka ucapkanlah) : “Bismillah wa ‘ala sunnati (dalam sebuah riwayat : millati) Rasulillah.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/70) At Tirmidzi (2/152,153), Ibnu Majah (1/470), Ibnu Hibban dalam Shahih beliau (773), Al Hakim (1/366), Al Baihaqi (4/55), dan Ahmad (nomor 4990, 5233, 5370, dan 6111) dari dua jalan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma. sanadnya Shahih. (Ahkamul Janaiz hal. 190-192).

  • Disunnahkan membaringkan jenazah dengan bertumpu pada sisi kanan jasadnya (dalam posisi miring) dan menghadap kiblat. Dengan keadaan seperti inilah berjalan amalan ahlul Islam dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sampai hari ini. Demikian sebagaimana yang disebutkan dalam Al Muhalla (5/173) dan selainnya. Salah satu dalilnya adalah perkataan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wassalam tentang Ka’bah :

قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا

“Kiblat kalian ketika masih hidup maupun sudah mati.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3/115) dan selain beliau.

  • Setelah jenazah diletakkan di dalam rongga liang lahad dan tali-tali selain kepala dan kaki dilepas, maka rongga liang lahad tersebut ditutup dengan batu bata atau papan kayu/bambu dari atasnya (agak samping). Lalu sela-sela batu bata-batu bata itu ditutup dengan tanah liat agar menghalangi sesuatu yang masuk sekaligus untuk menguatkannya.
  • Disunnahkan bagi orang yang berada di dekat liang itu untuk menabur tiga genggaman tanah ke dalam liang kubur setelah jenazah diletakkan di dalamnya. Setelah itu ditumpahkan (diuruk) tanah ke atas jenazah tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا

 “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menshalati jenazah kemudian beliau mendatangi kuburan jenazah itu lalu beliau menabur tiga genggaman tanah kepadanya dari arah kepalanya tiga kali.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/499) dengan sanad yang bagus. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil (3/200).

  • Setelah selesai mengubur, disunnahkan beberapa perkara :
    • Hendaklah meninggikan makam dari tanah kira-kira sejengkal, dan tidak diratakan dengan tanah sebagai tanda bahwa itu adalah makam sehingga tetap dijaga dan tidak dihinakan. Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ لَهُ لَحْدًا، وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنَ نَصْبًا وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam (ketika wafat) dibuatkan untuk beliau liang lahad, dan ditegakkan sebuah batu di atasnya, dan kuburan beliau ditinggikan dari tanah sekitar sejengkal.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih beliau (2160) dan Al Baihaqi (3/410) dengan sanad yang bagus.

  • Hendaklah makam dibuat gundukan seperti punuk unta. Hal ini berdasarkan hadits Sufyan At Tammar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

رَأَيْتُ قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَبْرَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ مُسَنَّمًا

“Saya melihat kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam serta kuburan Abu Bakr dan Umar dibuat gundukan seperti punuk unta.”

Dikeluarkan oleh Al Bukhari 3/198-199) dan Al Baihaqi (4/3). Serta diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abu Nu’aim dalam Al Mustakhraj, sebagaimana disebutkan dalam At Talkhis karya Ibnu Hajar. Tambahan lafadznya adalah milik mereka berdua.

  • Hendaklah makam itu ditandai dengan batu atau yang semisalnya agar keluarganya yang meninggal setelahnya bisa dikubur di sebelahnya. Hal ini berdasarkan hadits Al Muthallab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ، أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ، قَالَ كَثِيرٌ: قَالَ الْمُطَّلِبُ: قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ: عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ، وَقَالَ: «أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»

“Ketika ‘Utsman bin Madh’un meninggal, jenazah beliau dikeluarkan lalu dimakamkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memerintah seseorang agar membawakan sebuah batu, tapi orang itu tidak mampu mengangkatnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam beranjak menuju batu itu dan menyingsingkan kedua lengan baju beliau. Katsir (seorang perawi) berkata : Al Muthallab berkata : Telah berkata orang yang mengabarkan kepadaku tentang hal itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam : “Seakan-akan saya melihat putihnya kedua lengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau menyingsingkan kedua lengan baju beliau. Kemudian beliau membawa batu itu dan meletakkannya di bagian kepala makam. Beliau berkata : “Saya memberi tanda kuburan saudaraku dengan batu itu, dan saya akan mengubur di sebelahnya anggota keluarga saya yang meninggal.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/69) dan Al Baihaqi (3/412) dengan sanad hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar dalam At Talkhis (5/229).

  • Hendaknya jenazah yang sudah dikubur itu tidak ditalqin dengan talqin yang ma’ruf pada hari ini karena hadits yang datang tentangnya tidak sah. Bahkan hendaknya berdiri di dekat kubur dan mendoakan keteguhan serta memintakan ampun bagi orang yang meninggal itu, serta memerintah hadirin untuk melakukan hal tersebut. Hal ini berdasarkan hadits ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: «اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ»

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam jika telah selesai mengubur jenazah, beliau berdiri di dekat kubur itu lalu berkata : “Mohonkanlah ampun kepada Alloh untuk saudara kalian dan mintakanlah keteguhan untuknya. Sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/70) dan Al Hakim (1/370), Al Baihaqi (4/56) dan Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid Az Zuhd (hal. 129). Al Hakim berkata : “Sanadnya shahih.” Adz Dzahabi menyetujui penshahihan tersebut. Asy Syaikh Al Albani berkata (Ahkamul Janaiz hal. 198) : “Hadits tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua.”

  • Haram hukumnya menyemen dan membangun kuburan. Demikian pula menulisi batu nisan. Dan diharamkan juga duduk di atas kuburan, menginjaknya serta bersandar padanya. Hal ini berdasarkan hadits Jabir  radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ , وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ ” رواه مسلم زاد الترمذى: ” وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا “.

” Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan memplester kuburan, membangunnya, dan duduk di atasnya.” Hadits riwayat Muslim. At Tirmidzi menambahkan : “Dan (melarang) perbuatan menulisi kuburan.”

Hadit di atas diriwayatkan oleh Muslim (3/62), Abu Dawud (3225), An Nasa’i (1/285), At Tirmidzi (1/196) dan Al Hakim (1/370), Al Baihaqi (4/4), Ahmad (3/295,332), dan Ibnu Abi Syaibah (4/134,136,137). Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil (3/207).

Dan hadits jabir radhiallahu ‘anhu

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُجَصَّصَ القُبُورُ، وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا، وَأَنْ تُوطَأَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan memplester kuburan, menulisinya, membangunnya, dan menginjaknya.”

Diriwayatkan secara marfu’ oleh At Tirmidzi (3/359) dan dishahihkan oleh beliau.

Ada perincian dalam masalah memplester kuburan, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah :

إن كان المقصود من التطين المحافظة على القبر وبقائه مرفوعا قدر ما سمح به الشرع، وأن لا تنسفه الرياح ولا تبعثره الامطار، فهو جائز بدون شك لانه يحقق غاية مشروعة. ولعل هذا هو وجه من قال من الحنابلة أنه يستحب.

وإن كان المقصود الزينة ونحوها مما لا فائدة فيه فلا يجوز لانه محدث.

“Jika maksud dari memplester adalah untuk menjaga kuburan itu dan agar tetap nampak tinggi dengan ukuran yang dibolehkan oleh syariat (sekitar satu jengkal-pent), serta agar tidak dihambur-hamburkan oleh angin dan diceraiberaikan oleh hujan, maka hal itu diperbolehkan tanpa ragu lagi karena akan mewujudkan tujuan yang disyariatkan (menjaga keutuhan dan kehormatan kuburan-pent). Bisa jadi ini adalah alasan yang dipakai oleh beberapa ulama Hanabilah yang berpendapat mustahabnya memplester kuburan. Adapun jika maksud dari memplesternya adalah untuk hiasan dan yang semisalnya dari perkara yang tidak bermanfaat, maka tidak diperbolehkan karena merupakan perkara yang baru (dalam agama-pent).” (Ahkamul Janaiz 1/205-206)

Referensi :

Ahkamul Janaiz – Syaikh Al Albani

Talkhis Ahkamul Janaiz – Syaikh Al Albani

Subulus Salam – Al Imam Ash Shan’ani

Irwaul Ghalil – Syaikh Al Albani

(Semua referensi di atas diambil dari Al Maktabah Asy Syamilah)

Al Mulakhas Al Fiqhi – Syaikh Al Fauzan